Kamis, 13 Juli 2017

Wilayah Jawa Barat Bagian Timur, Sesungguhnya Perlu di Perhatikan

Jawa Barat merupakan provinsi dengan “sejuta” potensi berkat sumber daya alam yang strategis, dan sumber daya manusia yang memadai. Jik... thumbnail 1 summary

Jawa Barat merupakan provinsi dengan “sejuta” potensi berkat sumber daya alam yang strategis, dan sumber daya manusia yang memadai. Jika dikelola secara tepat, Ridwan Kamil optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bisa menjadi yang terbaik di Indonesia. 

Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan  proses pembangunannya. Namun, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses  pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.

Pertumbuhan ekonomi tidak bisa diukur dari pendapatan per kapita saja, ini masih terjadi kesenjangan. Karena itu, dorongan untuk industri ataupun bentuk usaha apa pun yang digagas warga pribumi di Jawa Barat perlu menjadi perhatian, terutama wilayah Jawa Barat Timur

Wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan (Ciayumajakuning) merupakan kekuatan ekonomi yang baru dan besar di Jawa Barat sesudah kawasan Bandung Raya. Untuk mengoptimalkan pembangunan di sana, setiap kabupaten dan kota seharusnya menyinergikan bermacam ragam potensi daerah.

Dibawah Keperintahan Gubenur Ahmad Heriawanh telah bersepakat untuk memproyeksikan Ciayumajakuning tahun 2028 sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang prestisius. Ciayumajakuning menjadi magnet raksasa perekonomian, baik skala internasional, nasional, maupun regional. Konsep Ciayumajakuning mengistilahkannya Cirebon Metropolis atau Cirebon Raya.

Dalam konsep Ciayumajakuning, Kota Cirebon berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional (PKN), selain pusat pertumbuhan Jawa Barat bagian timur serta pusat kawasan andalan Ciayumajakuning dan sekitarnya. Sebagai PKN maka Kota Cirebon berfungsi untuk melayani kegiatan perkotaan skala internasional, nasional, dan regional.

Tiga wilayah di Jawa Barat berfungsi sebagai PKN, yaitu wilayah Bandung dan sekitarnya, wilayah Bogor dan sekitarnya, serta wilayah Cirebon dan sekitarnya. “Wilayah Cirebon dan sekitarnya sangat berpotensi untuk berkembang karena belum terlalu ramai dan masih bisa mengatur tata ruangnya.

Selain potensi sumberdaya alam yang berlimpah (perikanan, pertanian, perkebunan, perdagangan, jasa, minyak dan gas), posisi geografisnya strategis (akses ke Jakarta dan Bandung serta akses ke Semarang dan Yogyakarta). Topografinya juga mendukung, dari daerah perairan, pesisir, pantai, dataran, ke pegunungan.

Semua daerah kabupaten dan kotanya terbentang dari Cirebon dan Indramayu sebagai daerah pesisir ke Majalengka dan Kuningan sebagai daerah pegunungan. Dalam konsep Ciayumajakuning, pembangunan infrastruktur, utamanya infrastruktur perhubungan, baik darat, laut, maupun udara, menjadi persoalan yang krusial.

  • Sektor pertanian, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon merupakan salah satu lumbung padi nasional, juga mangga gedong gincu sebagai produk unggulan Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu. “Mangga yang sudah diekspor bernama gedong gincu. Hanya ada di Ciayumajakuning.
  • Sektor industri jasa dan manufaktur seperti batik, rotan, makanan olahan, dan perdagangan, terpusat di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, bola yang diekspor ke Eropa dan Afrika Selatan adalah komoditas unggulan Kabupaten Majalengka, sedangkan Kabupaten Indramayu penghasil minyak dan gas yang dikelola PT Pertamina.
  • Sektor pariwisata menjadi andalan Kabupaten Kuningan yang mengandalkan kelestarian hutan di sekitar Gunung Ciremai. Demikian pula Kabupaten dan Kota Cirebon menyuguhkan wisata budaya sekaligus religi melalui kehadiran tiga keraton dan makam Sunan Gunung Jati yang tak sepi dikunjungi.


Infrastruktur pendukung yang memperlancar akses di Ciayumajakuning seperti tol Palimanan-Kanci dan tol Kanci-Pejagan yang kian mempercepat arus lalu lintas kendaraan dari Jawa Tengah ke DKI Jakarta. Transportasi kereta api rute Jakarta-Cirebon-Jakarta juga tersedia tujuh kali sehari. “Posisi Ciayumajakuning strategis sebagai daerah perlintasan.”

Wilayah Cirebon memiliki Kabupaten Kuningan yang potensi airnya berlimpah. Air dari Kabupaten Kuningan dimanfaatkan penduduk, di antaranya di Kota dan Kabupaten Cirebon. Untuk mengelolanya, diterapkan sistem pengelolaan air minum regional bersama daerah lain di wilayah Cirebon.

Jika penataan bermacam ragam potensi daerah tersebut tersinergikan, wilayah Cirebon bisa menjadi pusat pemerintahan di Jawa Barat. “Mimpi saya, Cirebon nantinya jadi pusat pemerintahan di Jawa Barat.

Potensi ekonomi dan sumberdaya alam Ciayumajakuning mubazir jika setiap kabupaten dan kota tidak menyinergikan potensinya. Salah satu bentuk sinergi yang saling melengkapi ialah rencana Kabupaten Kuningan menjadi pemasok air baku untuk Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu yang kekurangan air bersih. Juga mengelola bersama sampah, Bandara Kertajati, dan Bendungan Jatigede.

Kelengkapan infrastruktur pendukung di Ciayumajakuning belum termanfaatkan, di antaranya Pelabuhan Cirebon yang lima tahun terakhir hanya lokasi bongkar muat batubara, Lapangan Udara Penggung hanya didarati pesawat kecil, dan beberapa ruas jalan antarkabupaten/kota yang rusak.

Meskipun Ciayumajakuning memiliki kekuatan ekonomi dan sumberdaya alam, sebenarnya bukan alasan utama memekarkan wilayahnya sebagai provinsi yang terpisah dari Jawa Barat. Dengan bersinergi, pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan sumberdaya alam di Ciayumajakuning bisa lebih optimal.

baca :  POTENSI JAWA BARAT ( http://perwakilan.jabarprov.go.id/artikel/7/potensi-jawa-barat )

Mengungkap berbagai masalah

Komplain masyarakat Cirebon wilayah timur yang mengeluhkan 28,3 km jalan rusak akibat pembangunan tol Kanci-Pejagan. “Kondisi jalan rusak di beberapa desa hingga menyebabkan konflik masyarakat Cirebon wilayah timur. Mereka ingin memisahkan diri dari Kabupaten Cirebon

Masalah lainnya ialah kebijakan Menteri Perdagangan yang memberlakukan ekspor bahan mentah rotan serta Kabupaten Kuningan yang sering terkena banjir kiriman. “Saat musim kemarau, warga punya MoU (memorandum of understanding) untuk pemenuhan air bersih. Tapi, untuk masalah banjir kiriman ini tanpa MoU.

Masyarakat meminta DPD memfasilitasi pembangunan kebun raya di Kuningan, termasuk infrastrukturnya. Karena manfaatnya sangat banyak, karena antaranya, kebun raya berfungsi sebagai resapan air untuk kebutuhan daerah sekitarnya, seperti Kota dan Kabupaten Cirebon serta Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu.

Masyarakat Kota Cirebon juga mengeluhkan Pelabuhan Cirebon yang tidak berkontribusi untuk pembangunan Kota Cirebon. Retribusi truk pengangkut batu bara setiap hari melintas tapi tidak ada imbasnya. Bahkan, warga hanya menerima debu batu bara yang menyebabkan polusi udara yang merusak kesehatan. 

Juga pemanfaatan Bandara Penggung di samping rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Dengan menambah lahan 400 m, Bandara Penggung bisa melayani penerbangan skala sedang, sehingga jika presiden atau menteri berkunjung ke wilayah Ciayumajakuning maka mereka bisa langsung mendarat di Cirebon.

Kabupaten Indramayu, mengadukan PT Pertamina yang hingga sekarang menunggak pajak pengelolaan minyak bumi. Meskipun persoalannya disengketakan ke Mahkamah Agung (MA) dan dimenangkan Kabupaten Indramayu, namun PT Pertamina tidak mematuhi putusan MA untuk membayar pajak pengelolaan minyak bumi kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Pemerintah Kabupaten Kuningan hanya meminta perhatian pemerintah pusat untuk mendukung potensi-potensi daerah yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, utamanya di bidang pariwisata dan potensi sumberdaya alam lainnya, yang sebagian besar menjadi komoditas utama dua kabupaten.




Tidak ada komentar

Posting Komentar